Kamis, 19 Agustus 2010

Surat seorang ibu untuk anaknya yang telah dewasa

Bismillaahirrohmaanirrohiiim....

Wahai Anakku!
Inilah surat dari ibumu yang lemah, yang ditulis dengan penuh rasa malu setelah lama mengalami keraguan dan kebimbangan. Ibu pegang penanya berkali-kali lantas terhenti, dan ibu letakkan lagi pena itu karena air mata berlinang berkali-kali yang disusul dengan rintihan hati.

Wahai Anakku!
Sesudah perjalanan waktu yang panjang, ibu rasa engkau sudah dewasa dan memiliki akal sempurna maupun jiwa yang matang. Sedangkan ibu punya hak atas dirimu, maka bacalah sepucuk surat ini; dan jika tidak berkenan robek-robeklah sebagaimana engkau telah merobek-robek hati ibu.

Wahai Anakku!
Dua puluh lima tahun yang lalu adalah hari yang begitu membahagiakan hidup ibu. Ketika dokter memberitahu ibu, ibu sedang mengandung. Semua ibu tentu mengetahui makna ungkapan itu, yakni terhimpunnya kebahagiaan dan kegembiraan, serta awal perjuangan seiring dengan adanya berbagai perubahan fisik maupun psikis. Sesudah berita gembira itu ibu peroleh, dengan senang hati, ibu mengandungmu selama sembilan bulan.
Ibu berdiri, tidur, makan dan bernafas dengan susah payah. Namun itu semua tidak menyebabkan surutnya cinta ibu padamu dan kebahagiaan ibu menyambut kehadiranmu. Bahkan rasa cinta dan kerinduan ibu padamu tumbuh subur dan berkembang hari demi hari. Ibu mengandungmu dalam kondisi yang lemah dan bertambah lemah, payah dan bertambah payah. Ibu sangat bahagia meski bobotmu semakin berat, padahal kehamilan itu sangat berat bagi ibu.
Itulah perjuangan yang akan disusul dengan cahaya fajar kebahagiaan setelah berlalunya malam panjang, yang membuat ibu tidak bisa tidur dan kelopak mata ibu tak bisa terpejam. Ibu merasakan derita yang sangat, rasa takut dan cemas yang tak bisa dilukiskan dengan pena dan tak sanggup diungkapkan dengan retorika lisan. Ibu telah berkali-kali melihat kematian dengan mata kepala ibu sendiri, sehingga akhirnya engkau lahir ke dunia ini. Air mata tangismu yang bercampur dengan air mata kegembiraan ibu telah menghapus seluruh derita dan luka yang ibu rasakan.

Wahai Anakku!
Telah berlalu tahun demi tahun dari usiamu, dan dirimu selalu ibu bawa dalam hati ibu. Ibu memandikanmu dengan kedua tangan ibu. Pangkuan ibu sebagai bantalmu. Dada ibu sebagai makananmu. Ibu berjaga semalaman agar engkau bisa tidur. Ibu susuri siang hari dengan keletihan demi kebahagiaanmu. Dambaan ibu tiap hari adalah melihatmu tersenyum. Dan idaman ibu setiap saat adalah engkau meminta sesuatu yang ibu sanggup lakukan untukmu. Itulah puncak kebahagiaan ibu.
Itulah hari-hari dan malam yang ibu lalui sebagai pelayan yang tak pernah menyia-nyiakanmu sedikit pun. Sebagai wanita yang menyusuimu tiada henti, dan sebagai pekerja yang tak pernah putus hingga engkau tumbuh dan menjadi seorang remaja. Dan mulailah nampak tanda-tanda kedewasaanmu. Ketika itu pula, ibu kesana kemari mencarikan calon istri yang kau inginkan. Lalu tibalah saat pernikahanmu. Denyut jantung ibu terasa berhenti dan air mata ibu deras bercucuran karena gembira melihat hidup barumu dan karena sedih berpisah denganmu.
Saat-saat yang begitu berat telah lewat. Namun engkau seolah bukan lagi anak ibu, seperti yang ibu kenal selama ini. Sungguh engkau telah mengabaikan diri ibu dan tidak mempedulikan hak-hak ibu. Hari-hari berlalu dan ibu tidak lagi melihatmu dan tidak pula mendengar suaramu. Engkau masa bodoh kepada ibu yang selama ini menjadi pelayan yang mengurusimu.

Wahai Anakku!
 Ibu tidak meminta apa pun selain posisikanlah diri ibu ini seperti kawan-kawanmu yang terdekat denganmu. Jadikanlah ibu sebagai salah satu terminal hidupmu sehari-hari, sehingga ibu dapat melihatmu meskipun sekejap.

Wahai Anakku!
 Punggung ibu telah bongkok. Anggota tubuh ibu telah gemetaran. Beragam penyakit telah membuat ibu semakin ringkih. Rasa sakit senantiasa mendera ibu. Ibu sudah susah untuk berdiri maupun duduk, namun hati ibu masih sayang padamu.
Andaikan ada seseorang yang memuliakanmu sehari, tentu engkau akan memuji kebaikannya dan keelokan budinya. Padahal, ibumu ini telah benar-benar berbuat baik kepadamu, namun engkau tak melihatnya dan tak mau membalas kebaikannya. Ibumu telah menjadi pelayanmu dan telah mengurusmu bertahun-tahun. Lantas manakah balas budi dan hak ibu yang harus engkau tunaikan? Sekeras itukah hatimu? Apakah hari-hari sibukmu telah menyita seluruh waktumu?

Wahai Anakku!
 Ibu merasakan kebahagiaan dan kegembiraan bertambah saat melihatmu hidup bahagia, karena engkau adalah buah hati ibu. Apa salah ibu sehingga engkau memusuhi ibu, tak suka melihat ibu, dan engkau merasa berat untuk mengunjungi ibu? Apakah ibu pernah berbuat salah padamu atau pelayanan ibu kurang memuaskanmu?
Jadikanlah ibu seperti pelayan-pelayanmu yang engkau beri upah. Curahkanlah setitik kasih sayangmu. Renungkanlah jasa ibu dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah amat menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Wahai Anakku!
Ibu sangat berharap bisa bersua denganmu. Ibu tak ingin apapun selain itu. Biarkanlah ibu melihat muramnya wajahmu dan episode-episode kemarahanmu.

Wahai Anakku!
Sisakan peluang di hatimu untuk berlembut-lembut dengan seorang wanita renta, yang diliputi kerinduan dan dirundung kesedihan ini. Yang menjadikan kedukaan sebagai makanannya dan kesedihan sebagai selimutnya. Engkau cucurkan air matanya. Engkau membuat sedih hatinya dan engkau memutuskan hubungan dengannya.
Ibu tidak mengeluhkan kepedihan dan kesedihan ibu kehadirat-Nya, karena jika ibu adukan perkara ini ke atas awan dan ke pintu gerbang langit sana, ibu khawatir hukuman akan menimpamu, dan musibah akan terjadi dalam rumah tanggamu, lantaran kedurhakaanmu. Karena ibu teringat peringatan junjungan kita Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam:
"Maukah kalian aku sampaikan tentang dosa yang terbesar?" Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam mengucapkannya tiga kali. Para sahabat menjawab, "Ya, wahai Rasulullah". Beliau bersabda, "Menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua." (HR. Bukhari).

"Tidak masuk surga orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya." (HR. Ahmad).

"Tiga golongan orang yang tidak akan dilihat (dengan pandangan rahmat) oleh Allah pada hari kiamat; orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, orang yang suka minum minuman keras, orang yang suka mengungkit pemberiannya." (HR. Nasaai dan dinyatakan shahih oleh Albani).

"Terlaknat orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya." (HR. Hakim dan Thobrani serta dinyatakan shahih oleh Albani dalam Shahih at-Targhib wat-Tarhib, 2/334).

Tidak, ibu tidak menginginkan itu. Engkau tetap menjadi buah hati dan hiasan dunia ibu.


Camkanlah wahai Anakku!
Ketuaan mulai nampak dalam belahan rambutmu. Tahun demi tahun akan berlalu, dan engkau akan menjadi tua renta, sedangkan setiap perbuatan pasti akan dibalas setimpal. Engkau akan menulis surat kepada setiap anak-anakmu dengan cucuran air mata, sebagaimana yang ibu tulis untukmu. Dan di sisi Allah, akan bertemu orang-orang yang berselisih, hai Anakku. Maka bertakwalah engkau kepada Allah terhadap ibumu. Usaplah air matanya dan hiburlah agar kesedihannya sirna.
Robek-robeklah surat ini setelah engkau membacanya. Namun ketahuilah, siapa saja yang beramal shaleh, maka keshalehan itu buat dirinya sendiri, dan siapa yang berbuat jahat, maka balasan buruk bakal menimpanya.
"Barangsiapa mengerjakan kebajikan, maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa berbuat jahat, maka (dosanya) menjadi tanggungannya sendiri. Dan Rabbmu sekali-kali tidaklah menzalimi hamba-hamba-Nya." (QS. Fushshilat: 46).



Bahan rujukan: Qashash Mu'atstsirah fi Birr wa 'Uquqil Walidain (terjemahan) karya Fathurrahman Muhammad Jamil, dan lain-lain.


Ibu, aku rindu padamu........

Rabu, 18 Agustus 2010

Sahabat adalah satu jiwa dalam dua badan yang terpisah. Izinkan aku menjadi sahabat bagimu....

Hallo kawan, bersediakah kalian menjadi sahabatku...?

Alloohu waliyyulladziina aamanu.... Allah adalah sahabat bagi orang - orang yang beriman. ( Demikian kutipan dari salah satu ayat Al Qur'an )

Kawanku, hal ini sangat menarik bukan. Kenapa Allah ingin bersahabat ??  Karna 'sahabat' itu adalah hubungan yang sangat special. Dengan bersahabat kita bisa menembus batas yang ada. Tak perduli seseorang itu kaya atau miskin, tua atau muda, muslim atau bukan, dsb. Tak perduli siapa dia bagaimana dia asal dia sahabat kita maka kita akan tentram bersamanya.


Dalam kehidupan sehari - hari kita seringkali menemukan  anak yang lebih memilih sahabatnya daripada orangtua yg memeliharanya sejak kecil. Suami / istri yang lebih nyaman berdiskusi dengan temannya daripada dengan pasangannya sendiri, juga kehadiran Facebook yang begitu digemari dan mendamaikan hati karna bisa mempertemukan antara sahabat dengan sahabat.


Jadi jika ingin mendapatkan sebuah hubungan yang terjalin indah dan penuh berkah jalinlah hubungan persahabatan. Jika permusuhan terjadi, bukan karna kurangnya kasih sayang, tetapi tidak cukupnya persahabatan. Jadi sahabatkan-lah diri kita dengan orang - orang yang kita sayangi. Kita bisa mengusahakan dua orang yang berbeda, dirubah menjadi satu orang yang sama; yaitu 'sahabat'. Sahabat adalah satu jiwa dalam dua badan yang terpisah.Bagaimana caranya?

Ada yang bilang mengalahlah terhadap sahabat. Ya.... mulai dari sekarang mengalahlah. Mengalah itu mengijinkan orang menang; berarti pemenang yang sesungguhnya adalah orang yang mengalah. Cara bahagia bergaransi ini, benar - benar bergaransi. Maka mulai dari sekarang ikhlas-lah menggunakan cara yang baik. Ikhlaslah menjaga dari pikiran tidak baik,dari perasaan tidak baik, menjaga prilaku kita, memuliakan diri kita dan orang lain. Kadangkala orang - orang yang tampil sangat suci, bicara banyak menyebut nama Allah, masih juga banyak menyimpan racun juga ramuan memabukkan di dalam hatinya. Tapi dengan bersahabat semua keburukan bisa sirna. karna sahabat saling menyayangi, saling nasehat - menasehati dalam kebaikan, juga saling berbagi ilmu.

Mulai dari sekarang, tanyakanlah apakah kita sudah memiliki sahabat? Kemudian apakah kita membuat sahabat rindu untuk bersama? Apakah sahabat kita seringkali meminta pendapat dalam banyak hal?Apakah kita sudah saling berbuat kebaikan bersama sahabat? Jangan pikirkan, apakah yang kita lakukan dengan baik akan membahagiakan kita atau tidak. Jangan syaratkan harta untuk menentukan kebahagiaan.Jangan menentukan orang lain baik atau tidak kepada kita untuk berbahagia. Kita lengkap untuk diri kita sendiri.

Jadikanlah diri kita penyebab bagi kebahagiaan diri sendiri dan semua jiwa yang kita sentuh. Jadikan pribadi kita yang lebih ikhlas berlaku baik. Lalu perhatikan apa yang terjadi.......... dan tersenyumlah bersama sahabat - sahabat kita.

Ya Allah.......
Hamba-Mu yang membaca tulisan ini adalah sahabatku yang baik hatinya
Juga kuat dan sabar dalam hidupnya
Dan sudah berbesar jiwa dengan menjadikan dirinya sahabat bagiku
Tolonglah dia wahai Tuhanku
Tingkatkanlah kehidupannya supaya lebih sehat dan sejahtera
Apapun yang di niatkannya kabulkanlah....
Saat ia melangkah ringankanlah....

Dan selamatkanlah ia di dunia dan akhiratnya
Jadikanlah ia sahabat sejatiku selamanya...... Aaamiiiiin

Ya Allah.........
Sayangi dan berkahilah kami
Juga orang - orang yang kami sayangi
Murahkan rejeki kami dan bukakanlah jalan kemakmuran bagi kami
Jadikanlah kami di antara hamba - hamba-Mu yang bersyukur
Allohumma Aamiiin.........

Aku bahagia menjadi sahabatmu   :)

Gusti Ananda Khoirul Huda

Gusti Ananda Khoirul Huda, ya..... itu adalah sebuah nama. Nama anak laki-lakiku yang pertama. Sekarang usianya sudah 8 tahun. Padahal sepertinya baru kemarin ia ada. Hahaaa.... Nanda cepat bertumbuh dan berkembang tanpa ku sadari. Meskipun setiap hari aku memperhatikannya dengan seksama.

Sekarang ia ada di Sragen menuntut ilmu di pesantren tahfidz. Ia berada disana atas permintaannya sendiri. Hanya kuantarkan sebentar lalu ku tinggal pulang kembali. Nanda ga merengek ga juga rewel saat ku tinggal. bahkan ia bahagia sekali karna akhirnya bisa sekolah juga di pesantren tahfidz.

Teringat saat zaman dulu.....
Saat ia masih dalam kandungan kami berjuang bersama. Aku selalu pendarahan dan dalam tekanan psikologis yang amat berat karna belum bisa adaptasi di keluarga mertua. Menjelang lahir denyut jantung calon bayiku melemah, aku di sarankan ke dokter spesialis dan di nyatakan mesti mengambil tindakan operasi secepatnya agar ibu dan bayi selamat. "operasi" sungguh suatu kata yang amat menakutkan buatku.

Alhamdulillah kami bisa melewati semuanya mesti dalam banyak keterbatasan. Anakku......... subhanalloh..... lucu banget, cakep pula. Pertama kali aku memandangnya ia tersenyum dan memamerkan kedua lesung pipitnya. hatiku berdesir, subhanaloh... aku sdh punya anak yg baru lahir aja udah keren banget. Gimana nanti ya....... heheee. Mampukah aku menjaga dan memeliharanya dalam dekapanku kelak????

Meski kelahirannya tidak di sambut sebagaimana kelahiran anak - anak yang lain, aku dan Nanda amat bahagia. Kami punya dunia baru sekarang. Banyak impian yang hadir di hari - hari awal kebersamaan kami. Nanda oh nanda....... heheee ada banyak senyum tercipta.

7 hari sejak kelahirannya, ada makhlus halus yg menginginkan nanda. Kami menyebut makhluk itu 'kuyang'. sungguh pengalaman yang sangat menegangkan. Alhamdulillah warga kampung turut membantu mengusirnya. Dan Alhamdulillah kami sekeluarga selamat.

Sejak itu aku ga pernah mau berpisah sama nanda meski sekejab. Hm..... nanda sayang. Gemezzzzzz.......
Tiap hari aku bakar kulit bawang saat senja, juga menaburkan garam di sekeliling rumah, kata bu erte itu penangkal buat makhluk halus agar tidak berani datang lagi. Ada semangkok besar jimat dari sanak family juga teman2 yang datang menjenguk. Sebenarnya aku ga percaya dengan semua itu. Tapi tetap aja aku simpan sebagai kenang-kenangan. Sebagai tanda bahwa banyak yang perduli pada nanda dan berusaha ikut menyelamatkan nyawanya. Heheheee... terimakasih ya buat kalian semua.

Suatu senja nanda sedang di pangkuan ayahnya. Dan aku sedang berbenah di dapur. Adzan maghrib berkumandang. Saat takbir terdengar tiba-tiba nanda juga meneriakkan kalimat takbir dengan lantangnya. Aku langsung berlari melihatnya. Rasanya tak percaya telinga ini mendengar. Tapi ayah menegaskan bahwa ia juga mendengar bahkan melihatnya. Subhanalloh....... sungguh ajaib. Padahal usia nanda baru dua mingguan. Anakku.... semoga Allah merahmati setiap gerak dan langkahmu. Aamiiin........

Ga terasa  usia nanda makin bertambah dan bertambah. Setiap hari aku selalu berusaha memberi pendidikan terbaik untuknya. Aku semangat sekali buat mempelajari cara - cara mendidik anak. Aku juga sangat teliti dalam pemenuhan gizinya, meski dalam banyak keterbatasan. Nanda jadi endut, heheee...... gendut banget.

Genap 2 tahun aku masukkan nanda di play group. Hanya seminggu aku menemaninya. Setelah itu dia di antar jemput saja. Aku bangga banget pada anakku. Semua guru memuji kemandirian dan kecerdasannya, teman - temannya juga suka bermain dengannya. ia terlihat cepat akrab pada semua orang. kalau aku kebetulan datang ke sekolah untuk melihatnya ibu - ibu wali murid pada nanya ke aku bagaimana aku mendidik nanda. Hehee dalam hati aku bahagia sekali mereka mau bertanya. Sejak sekolah nanda jadi lebih kurus. tapi lebih pintar tentunya, heheee...... Dia jadi anak yang baik sekaligus sahabat yang menyenangkan buatku. Selalu berusaha membantu setiap kesibukanku dan berusaha menghilangkan segala kesedihanku. pinter banget membuatku yang lagi marah atau sedih jadi tertawa. gemezzzzzzzzz........

Nanda jadi seperti alarm buatku. Dia selalu menghapal jadwal harian di rumah. Ga boleh ada anggota keluarga yang terlupa. Buat aku yang ga disiplin mantapz banget, sekaligus nyusahin juga, heheeee. Aku punya bodyguard di rumah. yang selalu mengingatkanku jalan ke syurga. Keren banget........

Saat masuk TK adalah saat - saat terberat buat aku dan nanda. Aku dalam kondisi ga punya uang dan di timpa masalah yang cukup berat juga sedang hamil anak kedua. Sementara nanda merengek terus minta masuk TK. Alhamdulillah Om Cahyo dan Tante Lia ; sahabat kami bersedia membantu. Akhirnya    nanda sekolah juga. Tapi nanda mesti sendirian di rumah sepulang sekolah. Aku dan suami mesti bekerja. Cemas, khawatir, serta rasa takut menghantuiku sepanjang waktu saat nanda sendirian di rumah. Keyakinan bahwa Allah akan menjaganya membuatku kuat. Juga tetangga - tetanggaku yang baik di gang Nusantara membuatku agak tenang. Terimakasih semua.

Tahun 2008. nanda masuk SD. Whuaaaaaaaaaa gagah banget nanda dengan seragam Sd-nya. nanda bukan murid terbaik di sekolahnya. tapi dia adalah pembelajar yang baik dan kritis, juga mandiri. Cukuplah untuk bekal masa depannya. Dia menyerap dengan baik pelajaran yang aku berikan. Duplikasi yang sempurna. Hehehee...... cara bicaranya sama denganku, sikapnya juga, bawelnya juga, marahnya juga. Hm........ngangenin banget.

Waktu naik kelas dua Nanda minta di pindah ke pesantren. Pesantren yang ada pelajaran menghafal Qur'an katanya. Aku meng-iyakan. "iya nanda boleh, tapi nanti ya..." kataku saat itu. Rupanya dia serius dengan hal itu dan terus menerus menanyakan padaku kapan ia akan di pindah ke pesantren. Akhirnya setelah banyak kejadian spiritual dan diskusi yang panjang seluruh keluarga setuju. Aku mulai hunting pesantren. Dan aku sudah memutuskan nanda akan belajar di pesantren yang di asuh oleh salah seorang seniorku di SMU.

Dan waktunya tiba, aku bersama suami dan ibu mengantar nanda ke pesantren. Pas hari ulang tahunku, sungguh kado terindah buatku dari anakku tersayang juga semua orang yang sudah mendukungnya. ternyata semuanya berjalan lebih mudah dari apa yang aku duga. Alhamdulillah......

Dan hari - hari tanpa nanda di mulai. Whoaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.......... rasanya campur aduk. Aku kangeeeeeeeen banget sama Raja kecilku itu. Tapi aku malu mau bilang kangen. Soalnya nanda disana ga kangen aku dan hidupnya biasa aja walau tanpaku.

Dan...... cerita tentang nanda untuk sementara sampai disini dulu. InsyaAllah cerita tentang nanda selanjutnya akan ku tulis di lain waktu. Tulisan ini sengaja aku buat untuk mengenang kebersamaanku dengannya. Gusti Ananda Khoirul Huda anakku tersayang...... semoga Allah selalu merahmatimu. Aamiiin